Mataram, 4 Mei 2026 — Prestasi membanggakan kembali diukir keluarga besar MAN 1 Kota Mataram. Bukan satu, bukan dua, tapi tiga tim Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MANSA sekaligus sukses menembus babak final 10 besar Lomba Esai Nasional PKLI Universitas Islam Negeri Mataram 2026.
Kabar gembira ini disampaikan langsung Kepala MAN 1 Kota Mataram, H. Sauki, M.Pd, dengan wajah berbinar. “Alhamdulillah, 3 tim KIR MANSA lolos finalis 10 besar Lomba Esai Nasional PKLI UINMA, dan akan presentasi karya tanggal 12 Mei 2026,” ujarnya.
Bukan Kaleng-Kaleng: Singkirkan Ratusan Peserta se-Indonesia
Lomba Esai Nasional PKLI UINMA dikenal sebagai salah satu ajang ilmiah paling bergengsi tingkat nasional untuk pelajar. Tahun ini, panitia mencatat ratusan naskah esai dari SMA/MA sederajat se-Indonesia masuk ke meja juri. Temanya berat, seleksinya ketat, jurinya akademisi dan praktisi nasional.
Lolos ke 10 besar berarti karya tulis tiga tim MAN 1 Kota Mataram ini berhasil menyisihkan ratusan kompetitor dari sekolah dan madrasah unggulan seluruh Nusantara. Sebuah capaian yang tidak datang tiba-tiba.
“Ini buah dari budaya literasi dan riset yang kami rawat di MANSA. Anak-anak dilatih berpikir kritis, menulis sistematis, dan berani adu gagasan,” tegas H. Sauki.
12 Mei Jadi Hari Pembuktian: Presentasi di Hadapan Dewan Juri Nasional
Perjuangan belum selesai. Tanggal 12 Mei 2026, ketiga tim akan mempresentasikan karyanya langsung di hadapan dewan juri nasional di Kampus UIN Mataram. Diuji orisinalitasnya, dipertajam argumentasinya, ditantang cara mempertahankan ide.
“Ini levelnya sudah bukan lagi menulis di kertas. Tapi bagaimana mereka mampu berdiri, bicara, dan meyakinkan publik ilmiah bahwa gagasan mereka layak jadi solusi bangsa,” tambah H. Sauki.
Pihak madrasah kini menggeber persiapan intensif. Mulai dari coaching presentasi, simulasi tanya jawab juri, hingga penguatan mental. Semua guru pembina KIR turun tangan. Semua sumber daya dikerahkan. Targetnya jelas: bawa pulang juara untuk MANSA, untuk Kota Mataram, untuk NTB.
Kepala Madrasah: “Ini Bukti Madrasah Gudangnya Peneliti Muda”
Bagi H. Sauki, capaian ini meruntuhkan stigma lama. “Orang masih ada yang mikir madrasah itu hanya ngaji dan kitab kuning. Hari ini kami buktikan, anak madrasah juga bisa nulis esai ilmiah, bisa riset, bisa tembus kompetisi nasional,” ujarnya.
Ia menyebut, KIR MANSA adalah kawah candradimuka. Di sana siswa dilatih meneliti sejak dini. Dari masalah sampah, energi terbarukan, pendidikan karakter, sampai isu digital, semua dikaji. Hasilnya: prestasi beruntun di tingkat provinsi hingga nasional.
“Tiga tim lolos final sekaligus ini sejarah bagi kami. Ini pesan untuk semua guru dan ASN: jangan pernah remehkan potensi anak madrasah. Kasih ruang, kasih bimbingan, mereka akan terbang tinggi,” pesan H. Sauki.
Guru Bangga, Masyarakat Terinspirasi
Kabar ini langsung disambut sukacita civitas MAN 1 Kota Mataram. Para guru mengaku bangga karena kerja keras pembinaan KIR berbuah manis. “Anak-anak latihan sampai malam, revisi naskah berkali-kali. Lolos final ini bayaran yang setimpal,” kata salah satu pembina KIR.
Masyarakat pun ikut mengapresiasi. Di grup wali murid, ucapan selamat dan doa mengalir. “Bangga jadi bagian MANSA. Madrasah memang hebat,” tulis salah satu orang tua siswa.
Dari Madrasah untuk Indonesia: Cetak Peneliti, Lahirkan Solusi
Lolosnya tiga tim KIR MAN 1 Kota Mataram ke final nasional PKLI UINMA 2026 punya makna strategis. Pertama, mengangkat citra madrasah sebagai pusat keunggulan akademik dan riset. Kedua, membuktikan siswa NTB mampu bersaing di level nasional. Ketiga, menyulut semangat ribuan siswa madrasah lain: kalian juga bisa.
Kini semua mata tertuju ke 12 Mei. Doa dan dukungan mengalir dari guru, ASN, wali murid, hingga masyarakat Kota Mataram. Harapannya satu: tiga tim KIR MANSA pulang bawa tropi, bawa nama harum madrasah, dan bawa kebanggaan untuk Pulau Seribu Masjid.
Selamat berjuang, Tim KIR MANSA. Tunjukkan pada Indonesia: dari madrasah, lahir gagasan. Dari madrasah, lahir peneliti muda. Dari madrasah, lahir masa depan bangsa.